PERPUSTAKAAN KEMENTERIAN AGAMA RI

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Peta Jalan Penguatan Moderasi Beragama 2025-2029
Penanda Bagikan

Text

Peta Jalan Penguatan Moderasi Beragama 2025-2029

Syamsul Arifin - Nama Orang; Nasrullah - Nama Orang; Achmad Nidjam - Nama Orang; Qurrotu Aini - Nama Orang; Ali Mustofa - Nama Orang; Hastomo - Nama Orang; Agus Mulyono - Nama Orang; Haris Burhani - Nama Orang; Ni Wayan Pujiastuti - Nama Orang; Paulus Tasik Galle - Nama Orang; Akmal Salim Ruhana - Nama Orang; Ali Iqbal - Nama Orang; Sujud Baitullah Yuwono - Nama Orang; Baihaki Mukhtar - Nama Orang; Nur Kafid - Nama Orang; Farida Ishak - Nama Orang; Djubaidah - Nama Orang; Rosidin - Nama Orang; Neneng Maria Kiptiyah - Nama Orang;

Indonesia telah dikenal sebagai bangsa yang memiliki keunikan diantaranya keragaman dalam berbagai aspek. Dengan jalinan pluralitas yang dirajut dari ratusan kelompok etnis, bahasa, dan tradisi agama, Indonesia menjadi model hidup keterwujudan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Namun, keberagaman ini juga membawa serta potensi ketegangan dan tantangan, terutama ketika pemahaman agama direduksi menjadi eksklusivisme, intoleransi, atau bahkan kekerasan. Dalam konteks seperti itu, urgensi untuk memperkuat Moderasi Beragama merupakan hal yang niscaya.

Moderasi Beragama adalah kebutuhan strategis untuk menjaga persatuan nasional, memastikan keharmonisan sosial dan menjaga masa depan demokrasi Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini telah menghadapi tantangan yang semakin besar dari ideologi radikal, politik berbasis identitas, dan penyebaran ujaran kebencian dan misinformasi, terutama di ruang digital. Dinamika ini tidak hanya mengancam koeksistensi damai komunitas agama tetapi juga merusak kepercayaan publik, ketahanan nasional, dan nilai-nilai dasar Pancasila.

Di tengah ancaman tersebut, Moderasi Beragama menawarkan paradigma transformatif. Ia berfungsi sebagai jalan tengah—tidak netral atau pasif, tetapi aktif dan berprinsip—yang didasarkan pada keyakinan agama sekaligus terbuka terhadap pluralitas dan kewarganegaraan yang inklusif. Moderasi Beragama memungkinkan individu untuk tetap setia pada identitas agama masing-masing sekaligus menumbuhkan rasa hormat terhadap orang lain. Ia mengajarkan bahwa ketaatan tidak mengharuskan permusuhan dan penegasian terhadap perbedaan, dan bahwa perdamaian adalah kewajiban agama, bukan sekadar aspirasi politik.

Dari perspektif teologis, moderasi beragama mengacu pada ajaran moral semua agama, yang menekankan keadilan, kasih sayang, belas kasihan, keseimbangan, dan kerendahan hati. Nilai-nilai bersama ini menyediakan modal moral yang dibutuhkan untuk menghadapi ekstremisme dan menumbuhkan budaya toleransi dan saling menghormati. Oleh karena itu, moderasi beragama bukanlah pengenceran iman, melainkan pendalamannya—komitmen terhadap semangat agama, bukan hanya bentuk luarnya.

Peran negara, pemimpin agama, pendidik, masyarakat sipil, dan termasuk kaum muda yang diproyeksikan sebagai aktor pada era Indonesia Emas 2045, sangat penting dalam proses ini. Memperkuat moderasi beragama memerlukan strategi yang komprehensif, termasuk reformasi pendidikan, dialog antaragama, literasi media, pemberdayaan masyarakat, kerangka regulasi, dan kerangka kelembagaan. Sebagai kesimpulan, moderasi beragama sangat penting untuk menjaga identitas Indonesia sebagai negara yang pluralistik, demokratis, dan damai. Ini bukan hanya respons terhadap ekstremisme, tetapi upaya pro-aktif untuk membangun masa depan di mana agama dalam konteks pembangunan nasional berjangka panjang merupakan salah satu modal dasar yang berfungsi antara lain sebagai kekuatan pemersatu, bukan pemecah belah. Ketika tantangan global dan domestik terus berkembang, Indonesia harus tetap teguh dalam komitmennya untuk memelihara budaya beragama yang moderat, inklusif, dan tercerahkan—yang mencerminkan hakikat sejati warisan spiritualnya dan janji semboyan nasionalnya: Bhinneka Tunggal Ika.

Peta Jalan Penguatan Moderasi Beragama 2025-2029 merupakan dokumen untuk memandu pelaksanaan program Penguatan Moderasi Beragama sehingga terarah pada harapan dan target yang telah ditetapkan. Penyusunan Peta Jalan ini hanya salah satu ikhtiar awal yang berfungsi memandu dan memberi tanda. Yang jauh lebih penting dari dokumen ini adalah implementasi konkret yang diajalankan oleh semua pihak secara sinergis dan efektif sehingga bisa mencapai tujuan PMB yang diharapkan.


Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
-
Penerbit
Jakarta : Kementerian Agama : Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia., 2025
Deskripsi Fisik
xx, 154 hlm.; ilus.; 21 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
Cet.1
Subjek
MODERASI BERAGAMA
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
Syamsul Arifin
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

PERPUSTAKAAN KEMENTERIAN AGAMA RI
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?